<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Sang revolusioner, Che Guevara ataukah Fidel Castro ?</title>
	<atom:link href="http://brainhunter.wordpress.com/2008/08/05/sang-revolusioner-che-guevara-ataukah-fidel-castro/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://brainhunter.wordpress.com/2008/08/05/sang-revolusioner-che-guevara-ataukah-fidel-castro/</link>
	<description>it's all about what inside my brain</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2009 11:55:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: ajfly</title>
		<link>http://brainhunter.wordpress.com/2008/08/05/sang-revolusioner-che-guevara-ataukah-fidel-castro/#comment-340</link>
		<dc:creator>ajfly</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 20:35:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brainhunter.wordpress.com/?p=38#comment-340</guid>
		<description>WOW! Gila reply di atas sangat2 panjang dan sarat muatan.

Kalau berbicara pahlawan gerilya. atau pejuang gerilya, Indonesia tidak pernah kekurangan nama untuk disebutkan. Terbukti sejak awal VOC sebagai badan dagang belanda datang ke Indonesia hingga berubahnya kekuasaan VOC menjadi pemerintahan hindia Belanda, Belanda mengaku harus menerima kerugian dan harus mengirimkan peneliti-peneliti kebudayaan Indonesia untuk mendapatkan pemimpin perang (menangkap dan mengasingkan).

Perjuangan memang identik dengan pertumpahan darah. Namun, tak kalah pentingnya perjuangan secara diplomatik. Sampai sekarang perundingan dan negosiasi masih sangat dibutuhkan untuk menekan pertumpahan darah.

Di Indonesia sendiri, perubahan cara pandang perjuangan dari gerilya menjadi diplomasi bertitik pada masa Raden Ajeng Kartini, ketika tulisan tangan bisa menginspirasi berbagai pejuang dan pelajar Indonesia. Dari sini juga penulis terkenal Pramudya Anantatoer mengatakan pendidikan sangat penting bagi bangsa kita.

Tan Malaka dan Che Guevara boleh mengeluarkan buku perang masing-masing. Seni perang memang telah ada sejak ribuan tahun silam. Dan inilah fakta bahwa mereka (Tan Malaka dan Che Guevara) telah melakukan juga seni berperang dengan diplomasi. Jalur yang telah ditempuh R.A Kartini. Yaitu dengan tulisan dan menerbitkan buku. Mereka tidak juga akan terkenal tanpa mengeluarkan ide dan pemikiran terpendam mereka. Yang menyebabkan kaum muda dengan gelora perjuangan dan nasionalisme tinggi ikut membara setelah membaca tulisan mereka. Tak heran kalau bung Andreas Iswinarto juga sangat bersemangat dengan &quot;salam pembebasan&quot;nya.

Jadi, kembali ke topik yang diangkat oleh om Brain (begitulah saya mengenal penulis : 1rw@n), diantara Che Guevara dan Fidel Castro siapakah revolusioner Cuba? Jika telah disebutkan dalam tulisan diatas, bahwa Fidel Castro bertemu dengan Che Guevara dan memulai perjuangan bersama-sama, maka memang kedua orang tersebut adalah salah dua tokoh revolusioner. Melihat sepak terjang mereka berdua, wajar jika Che lebih dikenal, karena kedekatan Che dengan tokoh2 muda (para pemuda). Jiwa pejuang pada darah mudanya masih mewakili jiwa pejuang bagi pemuda sekarang. Pada tahun 1960-an setelah kembalinya Che dari China dan Soviet, dia menulis 2 buku. Buku inilah yang menyebabkan Che lebih dikenal sedangkan Fidel Castro lebih dikenal sebagai president Cuba. Jadi, om brain gak perlu bingung2 lagi. :D

Karena itu, dalam opini pribadi saya, sesungguhnya tiap individu adalah seorang revolusioner bagi dirinya sendiri.



soundtrack nulis reply ini:
- I&#039;d Love To Change The World by Ten Years After
- Run Through the Jungle by Creedence Clearwater Revival
(serius, gak sengaja 2 lagu tersebut mengiringi, jadi tambah smangat. Klo pengen dengerin silahkan download sendiri) :P

nb: Jangan2 om Brain lebih bingung mencari cinta seperti yg tersirat dalam tulisan berikutnya. hihiii... Nice to read your blog. Keep writing dude!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>WOW! Gila reply di atas sangat2 panjang dan sarat muatan.</p>
<p>Kalau berbicara pahlawan gerilya. atau pejuang gerilya, Indonesia tidak pernah kekurangan nama untuk disebutkan. Terbukti sejak awal VOC sebagai badan dagang belanda datang ke Indonesia hingga berubahnya kekuasaan VOC menjadi pemerintahan hindia Belanda, Belanda mengaku harus menerima kerugian dan harus mengirimkan peneliti-peneliti kebudayaan Indonesia untuk mendapatkan pemimpin perang (menangkap dan mengasingkan).</p>
<p>Perjuangan memang identik dengan pertumpahan darah. Namun, tak kalah pentingnya perjuangan secara diplomatik. Sampai sekarang perundingan dan negosiasi masih sangat dibutuhkan untuk menekan pertumpahan darah.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, perubahan cara pandang perjuangan dari gerilya menjadi diplomasi bertitik pada masa Raden Ajeng Kartini, ketika tulisan tangan bisa menginspirasi berbagai pejuang dan pelajar Indonesia. Dari sini juga penulis terkenal Pramudya Anantatoer mengatakan pendidikan sangat penting bagi bangsa kita.</p>
<p>Tan Malaka dan Che Guevara boleh mengeluarkan buku perang masing-masing. Seni perang memang telah ada sejak ribuan tahun silam. Dan inilah fakta bahwa mereka (Tan Malaka dan Che Guevara) telah melakukan juga seni berperang dengan diplomasi. Jalur yang telah ditempuh R.A Kartini. Yaitu dengan tulisan dan menerbitkan buku. Mereka tidak juga akan terkenal tanpa mengeluarkan ide dan pemikiran terpendam mereka. Yang menyebabkan kaum muda dengan gelora perjuangan dan nasionalisme tinggi ikut membara setelah membaca tulisan mereka. Tak heran kalau bung Andreas Iswinarto juga sangat bersemangat dengan &#8220;salam pembebasan&#8221;nya.</p>
<p>Jadi, kembali ke topik yang diangkat oleh om Brain (begitulah saya mengenal penulis : 1rw@n), diantara Che Guevara dan Fidel Castro siapakah revolusioner Cuba? Jika telah disebutkan dalam tulisan diatas, bahwa Fidel Castro bertemu dengan Che Guevara dan memulai perjuangan bersama-sama, maka memang kedua orang tersebut adalah salah dua tokoh revolusioner. Melihat sepak terjang mereka berdua, wajar jika Che lebih dikenal, karena kedekatan Che dengan tokoh2 muda (para pemuda). Jiwa pejuang pada darah mudanya masih mewakili jiwa pejuang bagi pemuda sekarang. Pada tahun 1960-an setelah kembalinya Che dari China dan Soviet, dia menulis 2 buku. Buku inilah yang menyebabkan Che lebih dikenal sedangkan Fidel Castro lebih dikenal sebagai president Cuba. Jadi, om brain gak perlu bingung2 lagi. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Karena itu, dalam opini pribadi saya, sesungguhnya tiap individu adalah seorang revolusioner bagi dirinya sendiri.</p>
<p>soundtrack nulis reply ini:<br />
- I&#8217;d Love To Change The World by Ten Years After<br />
- Run Through the Jungle by Creedence Clearwater Revival<br />
(serius, gak sengaja 2 lagu tersebut mengiringi, jadi tambah smangat. Klo pengen dengerin silahkan download sendiri) <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>nb: Jangan2 om Brain lebih bingung mencari cinta seperti yg tersirat dalam tulisan berikutnya. hihiii&#8230; Nice to read your blog. Keep writing dude!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: andreas iswinarto</title>
		<link>http://brainhunter.wordpress.com/2008/08/05/sang-revolusioner-che-guevara-ataukah-fidel-castro/#comment-97</link>
		<dc:creator>andreas iswinarto</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 01:05:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brainhunter.wordpress.com/?p=38#comment-97</guid>
		<description>Buku Perang Tan Malaka dan Che Guevara 

semoga bermanfaat..

Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia. 
(sumber Tempo)

Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

Apakah gunanya GERPOLEK?

GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

Siapakah konon SANG GERILYA itu?

SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

-------------

Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga &#039;perang senjata&#039;. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.


Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

&quot;Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman--dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang---bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah.&quot;

---------
Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

Salam Pembebasan

Andreas Iswinarto


untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buku Perang Tan Malaka dan Che Guevara </p>
<p>semoga bermanfaat..</p>
<p>Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.<br />
(sumber Tempo)</p>
<p>Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :</p>
<p>Apakah gunanya GERPOLEK?</p>
<p>GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!</p>
<p>Siapakah konon SANG GERILYA itu?</p>
<p>SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.<br />
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.</p>
<p>SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.</p>
<p>Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga &#8216;perang senjata&#8217;. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.</p>
<p>Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.</p>
<p>Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut</p>
<p>&#8220;Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman&#8211;dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang&#8212;bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.</p>
<p>Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.</p>
<p>Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.</p>
<p>Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online</p>
<p>Salam Pembebasan</p>
<p>Andreas Iswinarto</p>
<p>untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.</p>
<p><a href="http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html" rel="nofollow">http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: they</title>
		<link>http://brainhunter.wordpress.com/2008/08/05/sang-revolusioner-che-guevara-ataukah-fidel-castro/#comment-25</link>
		<dc:creator>they</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 04:39:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://brainhunter.wordpress.com/?p=38#comment-25</guid>
		<description>wow emberr</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wow emberr</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
