Brain Hunter Blog

it’s all about what inside my brain

Bukan Sang Pemimpi

with 7 comments

Dengan rambut kribo, kulit agak hitam dan kurus, si Bocah berlari pecicilan, seolah mencari gara-gara pada siapapun yang lewat. Sedemikian hyper aktifnya tetangga kecilku yang satu itu, mengingatkanku pada sosok Arai di “sang pemimpi”nya Andrea Hirata. Tapi anggapanku tersebut hanya bertahan sejenak tatkala sebuah boneka gajah terlempar tepat mengenai wajahku ..”aiii kenaa hihihi” sambil meringis dia langsung lari keluar rumah.

Tak ada ungkapan lain selain menyebalkan, bego, pecicilan. Tiga kombinasi pas yang membentuk karakternya. Tak terhitung berapa anak yang dibuat nangis, tak terhitung jumlah ibu-ibu yang memeloti dia dan mengeluarkan sumpah serapah. Namun bocah tetaplah bocah, tetap dengan senyum lebar nan menyebalkan itu dia menghempaskan dinding norma sosial di lingkungan perkampungan. Baginya dimana matanya memandang adalah tempat bermain yang menakjubkan, ocehan ibu ibu tetangga adalah puisi merdu penyemangat jiwa, tangisan anak-anak adalah hiburan sirkus penenang hati. Sungguh tak ada pembatas dalam alam pikirannya.

Si Bocah bukanlah sang pemimpi, sebuah perbedaan yang amat jelas jika membandingkan antara si Bocah dan Arai “sang Pemimpi”. Bocah itu bloo’on bin bandel, setiap di beritahu orang tua selalu masuk telinga kiri keluar telinga kanan, ibu guru pun sudah putus asa untuk mengajari membaca dan menulis. Dia hanyalah bocah biasa dengan pandangan 360 derajat pada dunia. Dia ada dalam dunia yang berbeda dengan kita, dunia tanpa batas yang hanya dia yang dapat merasakan. Sampai akhirnya kita (para manuisa dewasa) yang akan memberi aturan-aturan yang cuma akan mempersempit dunianya. Dan menjadi manusia yang membosankan seperti kita.

Dalam diam aku iri melihatnya, andaikan aku bisa sebebas anak kecil itu, bebas dalam konteks pemikiran. tak ada dinding pembatas yang di namakan ego, sang penyempit pikiran manusia. Tak peduli seberapa keras konflik dalam keluarganya dan seberapa dingin tatapan para tetangga, itu semua bukan intervensi yang berarti bagi sang Bocah. Baginya dunia adalah panggung untuk mengeluarkan semua ekspresinya dengan bebas dan sambil berteriak lantang “AKULAH POWER RANGER MERAAAHHH”.

Iklan

Written by exKalong

14 Agustus 2008 pada 6:44 pm

Ditulis dalam kulihat, Kurasa

Tagged with , , , ,

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. anak2 pun butuh keMERDEKAan !!!! 🙂

    salam kenal 🙂

    Panda

    14 Agustus 2008 at 9:40 pm

  2. Pandangilah ketika anakmu tidur, ciumlah keningnya disitulah kamu akan menemukan sesuatu yang sangat istimewa dari kepolosannya….kebahagiaan cinta dan kasih sayang seakan berpadu menyatu pada jiwa murni tanpa dosa…..sungguh itu adalah sesuatu yang sangat indah …
    makasih dah berkunjung ketaman sederhanaku….
    oh yah…. dah nikah belum…? Salam damai dan sejahtera selalu….

    alam10

    15 Agustus 2008 at 7:31 am

  3. andrea hirata atao hinata? 😀

    heri

    15 Agustus 2008 at 10:08 am

  4. @panda::
    Merdekaaa!

    @alam10
    hehee blom om … mungkin klo punya adek ato temen cewe … halah 😀

    @heri
    thx bos .. betul andrea hirata hehe .. langsung revisi 😀

    1rw@n

    15 Agustus 2008 at 10:23 am

  5. klo diriku jiban :mrgreen:

    hanggadamai

    15 Agustus 2008 at 1:19 pm

  6. @hanggadamai ::
    saya kuda …

    1rw@n

    20 Agustus 2008 at 10:37 am

  7. save our children….orang dewasa memang aneh, mereka yg selalu memupuskan kebebasan itu, membuat batasan2 yg ga’ jelas, yg akhirnya berakibat fatal pada perkembangan kepribadiannya.
    i love children…terima kasih sudah berkunjung ke blog-ku. salam kenal

    htp://dewisanng.wordpress.com

    dewisang

    24 Agustus 2008 at 11:13 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: